Pada waktu silam, setangkai mawar memberikan sebuah janji kepadaku, dia berjanji kan bersemi di taman hati ku ini, pada suatu hari, asal ku setia menanti,
waktu pun berlalu,
janji pun ku tunggu,
namun,
seperti tak kunjung usai penantian ku ini,
hingga suatu ketika, cemas menyelimuti petaka, ada apa dgn keadaan sang mawar yg tiada kabar berita,
lalu, aku pun telusuri jalan setapak di lereng bukit pembuluh rindu, penuh duri dan batu merobek batinku, tak pelak kesehatanku pun terganggu,
entah sudah berapa hari ku berjalan, mungkin sebulan atau dua bulan, mungkin juga lebih dari beberapa tahunan,
hingga di suatu tempat, tubuhku mulai terasa penat, ku ingin istirahat.
pada keesokan hari, mentari nampak sembunyi, dalam diam ku coba terka yg telah terjadi
ternyata sang bunga telah pergi, meninggalkan smua janji tanpa pernah terbukti, sang bunga tlah disunting seorang priyayi berlalu menghilang pergi
setelah melihat smua yg terjadi aku pun kembali melangkah pulang
entah beberapa lama ku melangkah, nampak sang bunga layu meratap di tepi jalan, dirinya tlah dicampakkan habis tak bersisa,
ingin ku menolongnya, namun apadaya ia menjadikan semua sia-sia
semoga ia sadar, waktu terus berputar,
"
patah tak dapat direkatkan
bengkok tak dapat diluruskan
putus tak disambung
dan duri, tanpa diasah pun akan tajam sendiri,
waktu pun berlalu,
janji pun ku tunggu,
namun,
seperti tak kunjung usai penantian ku ini,
hingga suatu ketika, cemas menyelimuti petaka, ada apa dgn keadaan sang mawar yg tiada kabar berita,
lalu, aku pun telusuri jalan setapak di lereng bukit pembuluh rindu, penuh duri dan batu merobek batinku, tak pelak kesehatanku pun terganggu,
entah sudah berapa hari ku berjalan, mungkin sebulan atau dua bulan, mungkin juga lebih dari beberapa tahunan,
hingga di suatu tempat, tubuhku mulai terasa penat, ku ingin istirahat.
pada keesokan hari, mentari nampak sembunyi, dalam diam ku coba terka yg telah terjadi
ternyata sang bunga telah pergi, meninggalkan smua janji tanpa pernah terbukti, sang bunga tlah disunting seorang priyayi berlalu menghilang pergi
setelah melihat smua yg terjadi aku pun kembali melangkah pulang
entah beberapa lama ku melangkah, nampak sang bunga layu meratap di tepi jalan, dirinya tlah dicampakkan habis tak bersisa,
ingin ku menolongnya, namun apadaya ia menjadikan semua sia-sia
semoga ia sadar, waktu terus berputar,
"
patah tak dapat direkatkan
bengkok tak dapat diluruskan
putus tak disambung
dan duri, tanpa diasah pun akan tajam sendiri,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar